Sabtu, 04 Juni 2016

TUGAS SOFT SKILL : RESENSI NOVEL



Judul: Voice
Penulis: Ghyna Amanda
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2014
Design Sampul: Eduard Iwan
Tebal: 192 hkm
ISBN: 978-602-03-0947-7

Sebagai seorang customer service di sebuah perusahaan handphone seluler swasta Kirana Putri selalu menghabiskan waktu kerjanya dibalik microphone untuk melayani keluhan pelanggannya. Tanggung jawab yang dipegangnya sebenarnya tidak sulit. Tapi hanya saja ia mulai merasa jengkel saat beberapa pelanggannya mengira bahwa dirinya adalah seorang pria. Bagaimana tidak salah kaprah jika pada kenyataannya Kirana memiliki suara khas seorang pria.

Kirana yang baru menginjak usia 22 tahun hidup terpisah dari ayahnya karena sang ayah memutuskan bercerai dan membentuk keluarga baru. Lintang, adik laki-laki Kirana satu-satunya tinggal bersama ayah dan ibu tirinya sedangkan Kirana tinggal bersama sang bunda. Semua terasa berbeda saat Kirana berkunjung kerumah lamanya dan bisa dikatakan hubungannya dengan si ibu tiri yang tidak terlalu baik.

Suara pria yang dimiliki oleh Kirana mengundang rasa ketertarikan Mas Indra untuk mengajak Kirana bekerja sama dalam project games buatannya. Kirana langsung menyetujui tawaran itu dan mengirimkan sample rekaman suara miliknya melalui email.Tetapi email itu terkirim kepada pihak lain dan membuat Kirana harus membuktikan keaslian suaranya di sebuah studio rekaman. Di studio itulah ia pertama kali berjumpa dengan Shimizu Akira.

Shimizu Akira atau biasa dipanggil Akira adalah cowok blasteran keturunan Jepang yang sedang membuktikan kemampuannya di bidang voice acting. Ia mengirimkan sample suara untuk mengisi suara sebuah film animasi namun karena ada sedikit salah paham di studi rekaman ia malah dipertemukan dengan Kirana Putri. Kirana yang memiliki karakter suara pria yang kuat terpilih sebagai pengisi suara tokoh "Satria" sekaligus menjadi lawan main Akira. Kirana yang masih baru dalam dunia voice acting menuntut dirinya untuk berlatih keras bersama dengan voice actor lainnya yang sudah berpengalaman.

Selain Akira, film animasi berjudul The Princess and The Raven disuarai oleh Nauval dan Mbak Alena. Kirana semakin mengenal dunia dibalik voice acting dan proses penggarapannya selama berlatih. Dan nyatanya menjadi seorang voice actor tidak mudah. Hal ini dirasakan oleh Kirana setelah tiga minggu berlatih dan hasil latihannya tidak memberikan hasil yang terbaik. Kirana yang merasa dirinya lemah dan terus menyalahkan dirinya sendiri karena ketidakmampuannya melakoni peran Satria malah membuat Kirana ingin mundur dari proses recording film ini. Akankah Kirana menyerah? Masihkah ada harapan baginya untuk membuktiikan pada dirinya sendiri bahwa dia mampu? Semua jawaban menjadi satu dalam Voice.

***

Alur cerita di mulai dari keseharian Kirana sampai akhirnya ia tersesat karena kesalahan dirinya yang tidak sengaja mengirimkan sample rekaman suaranya kesebuah email audisi pencarian voice actor yang semula sample itu seharusnya dikirimkan untuk project sebuah games. Akira yang nantinya menjadi lawan main Kirana memiliki sebuah mimpi untuk menjadi seiyuu di Jepang. Demi mewujudkan mimpinya itu ia bertekad untuk menjadi seorang voice actor.

Akira yang cendurung obsesif dan tegas sangat bertolak belakang dengan Kirana yang santai dan cenderung kurang percaya diri pada kemampuannya. Karena sifatnya yang seperti itu membuat dia tertinggal dari rekan pemain lainnya. Mbak Alena yang menjadi pengisi suara penyihir menganggap Kirana sebagai penghambat proses recording dan membuat hubungan keduanya menjadi renggang, Kirana yang dianggap seperti itu malah memutuskan untuk berhenti dari proses recording.

Penggambaran karakter Kirana yang kurang percaya diri membuat cerita ini sedikit terasa kurang. Alur cerita yang bergerak maju tapi terkesan lambat. Konflik yang diangkat sebenarnya bagus tapi kurang diperluas. Sepertinya penulis ingin menonjolkan pengembangan karakter setiap tokoh ketimbang konflik cerita yang diangkat.

Melalui dialog Akira bersama Kirana saya dapat mengetahui bahwa karakter Akira ang obsesif disebabkan karena Akira sejak dulu ingin menjadi seorang seiyuu atau pengisi suara film animasi Jepang. Sayangnya keinginan ini ditentang oleh orang tuanya yang berada di Jepang. Akira akhirnya pindah ke Indonesia untuk sekolah dan mengikuti audisi voice actor yang nantinya bisa membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia mampu menjadi seorang seiyuu.

Walaupun tidak ditunjukan secara explisit bahwa Akira menyukai Kirana, tampak beberapa adegan saat Akira menujukkan perhatian lebih kepada Kirana. Setiap pulang dari berlatih take vocal di studio Akira bersedia mengantar Kirana padahal waktu sudah menujukan pukul 11 malam. Dan ketika Kirana sudah memutuskan berhenti menjadi pengisi suara Satria, Akira datang kerumah Kirana hanya untuk membujuknya kembai bergabung dalam proses rekaman. Cerita terasa mengalir dan saya menyukai saat-saat menjelang ending.


Sering kali kita menyerah pada sebuah hal baru yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Terjebak dan zona nyaman tidak seharusnya membuat kita malu mencoba berbagai tantangan. Buku ini menyadarkan setiap pembacanya bahwa setiap orang memiliki keunikan dan bakat dalam diri masing-masing. Keunikan itu tidak seharusnya membuat kita menjadi malu dan menyerah, Jika kita bisa mengolahnya, ia bisa menjadi sebuah pijakan bagi kita untuk memulai sebuah keberhasillan yang tidak terbayangkan saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar