Minggu, 03 Januari 2016

TUGAS PROPOSAL (BAHASA INDONESIA)

BAHASA INDONESIA  1 (Proposal Penelitian)
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Judul Kreativitas dengan Memanfaatkan Open Source Software sebagai Bisnis dalam Dunia Kerja
A. Latar Belakang
Di Indonesia OSS mulai banyak dilirik tidak hanya oleh kalangan akademisi dan komunitas saja namun juga oleh kalangan bisnis dan pemerintahan. OSS telah banyak membantu edukasi Indonesia melalui berbagai aplikasi seperti ensiklopedia online Wikipedia, distro pendidikan Edubuntu, aplikasi pendukung karya animasi Blender3D dan kamus online bahasa lokal Kardinal. Keterlibatan OSS dalam edukasi telah menumbuhkan minat para pelajar dan mahasiswa untuk berkarya juga. Ini dibuktikan oleh OSS lokal karya anak bangsa seperti Kardinal, analisa statistik Zaitun TS, manajemen hotspot EasyHotspot hingga permainan Nusantara Online (CHIP, 2009). Ini juga menunjukan bahwa masyarakat telah siap berkarya OSS dengan kemampuan yang dimiliki. Dalam dunia bisnis OSS dipandang sebagai solusi penunjang bisnis rendah biaya. Salah satu contoh perusahaan besar di Indonesia yang telah menerapkan OSS adalah PT Telkom Indonesia (Indra Utoyo, 2009). OSS biasanya hanya digunakan untuk menggantikan aplikasi propietary sehingga perusahaan tidak perlu menambah biaya tambahan untuk lisensi aplikasi seperti mengganti Microsoft Office Suite dengan OpenOffice dan Zimbra Desktop.
Pemerintah juga telah ikut berpartisipasi dalam Open Source di Indonesia. Salah satunya adalah gerakan nasional Indonesia, Go Open Source! (IGOS). Gerakan ini dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Komunikasi dan Informatika, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Departemen Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk meningkatkan penggunaan dan pengembangan perangkat lunak Open Source di Indonesia (www.wikipedia.org, 2009). Salah satu produknya yang cukup terkenal adalah IGOS Nusantara, sebuah remastered distro linux berbahasa Indonesia.
Seiring dengan perkembangannya, baik jumlah pengguna maupun pengembang Open Source di Indonesia terus bertambah sehingga dibentuklah sebuah wadah yang menyatukan mereka yang disebut Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI). AOSI diresmikan tanggal 30 juni 2008 dengan sejumlah program untuk mendorong pengembangan teknis dan bisnis Open Source Indonesia (www.aosi.or.id, 2010). Salah satu kegiatannya adalah Global Conference on Open Source (GCOS). Menurut Ketua AOSI Betti Alisjahbana, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan kolaborasi internasional antar kalangan pengguna Open Source. Selain itu ada juga komunitas yang terbentuk seperti Komunitas Indonesia Open Source atau KIOS (www.opensource.telkomspeedy.com) dan program global Sun Microsystem.inc (www.sun.com, 2008) untuk mahasiswa di seluruh dunia yang berminat di OSS yaitu Open Source University Meetup (OSUM). Menurut Community Manager of OSUM Indonesia Alex Budiyanto (2009), di Indonesia sudah terdapat ratusan universitas dan politeknik yang tergabung dalam program diskusi online OSUM seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma.
Dari berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan OSS di atas, hampir semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu mensosialisasikan, menjelaskan, membudayakan dan mewadahi OSS di Indonesia agar masayarakat (segala kalangan) dapat menerima OSS dan memanfaatkannya. Memanfaatkan OSS berarti memakai OSS untuk keperluan atau solusi pekerjaan (task) dan memanfaatkan OSS dari segi nilai bisnis. Bisnis OSS bukan tidak mungkin dilakukan dan ini yang akan digagaskan pada tulisan ini.
1.2 Perumusan Masalah
            Pembajakan software yang semakin marak di Indonesia dan munculnya software open source sebagai salah satu solusi alternatif untuk menguranginya merupakan sebuah hal yang menarik untuk diteliti.
Adapun tujuan dan batasan rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:
a.  Menganalisa persepsi mahasiswa terhadap pembajakan software.
b. Menganalisa pemahaman tentang software open source
c. Menganalisa motivasi dan kendala yang dihadapi dalam menggunakan aplikasi open source.
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan yang dapat diambil dari Penyusunan Proposal ini adalah:
a.       Mengenal software open source
b.      Manfaat aplikasi open source
c.       Pengembangan open source aplikasi mendatang

BAB 2
LANDASAN
A.      Hambatan untuk Open Source
Perjalanan OSS untuk terus menyebar agar dapat diterima dan dimaksimalkan oleh masyarakat tentunya tidak selalu mulus. Menururt SPV of Ingres Engineering Emma McGrattan (2010), terdapat setidaknya enam mitos yang membuat OSS sulit diterima oleh pemakai (user) yaitu OSS Adalah Solusi Kelas Dua, OSS Bukan untuk Aplikasi Kritis, OSS Tidak Memiliki Hak Kekayaan Intelektual, OSS Tidak Menawarkan Dukungan Profesional, OSS Tidak Memiliki Regulasi dan OSS Tidak Aman. Selain itu faktor-faktor teknis juga menyulitkan pemakaian OSS seperti kompatibilitas data aplikasi. Namun hal tersebut sudah mulai berkurang seiring dengan perkembangan teknologi Open Source yang pesat. Kesulitan-kesulitan teknis baik itu pengoperasian atau pemeliharaan yang dulu menjadi masalah kini sedikit demi sedikit teratasi berkat kontribusi komunitas OSS untuk berbagai perbaikan seperti antar muka (interface), kompabilitas, runtime performance dan sebagainya. Sementara menurut Stephen R. Walli (2005), alasan kenapa orang tidak mau memakai OSS adalah
1.            Khawatir akan keadaan dukungan teknis (92%)
2.            Kurangnya pengetahuan akan solusi alternatif OSS (74%)
3.            Kurangnya pengetahuan mengenai nilai bisnis OSS (69%)
4.            Ketidakjelasan mengenai masalah hak cipta intelektual, lisensi dan legalitas OSS (65%)
5.            Kurangnya keahlian bagaimana migrasi dari sistem lama ke OSS (64%)
6.            Kurangnya keahlian untuk menginstal dan optimasi (56%)
7.            Ada mitos bahwa OSS kurang dalam hal fungsi dan fitur (54%)
Namun hambatan-hambatan tersebut tidak selalu hanya memberi efek negatif karena dari merekalah peluang-peluang bisnis tercipta dan siap dimanfaatkan. Pembahasan berikutnya akan membahas model-model bisnis yang berkaitan dengan OSS baik yang telah ada maupun yang akan digagaskan.
B.      MEMANFAATKAN PELUANG KERJA OPEN SOURCE
1.       Model Bisnis yang Telah Diterapkan
Berikut ini adalah beberapa model bisnis yang telah diterapkan dan berkembang dengan memanfaatkan OSS baik sebagai produk penjualan atau pendukung bisnis,
Distributor
Model bisnis ini memanfaatkan kelebihan lisensi OSS yaitu bebas untuk didistribusikan. Selama ini OSS tersebar luas melalui jaringan internet dan siapa pun bisa mengunduhnya. Walaupun di Indonesia perkembangan internet berlangsung pesat dan telah mencapai angka 25 juta pengguna (www.internetworldstats.com, 2009), sebagian peminat OSS masih kesulitan dalam mendapatkan produk yang mereka inginkan. Mengunduh distro linux yang rata-rata berukuran besar (www.distrowatch.com) akan menjadi sangat sulit dan mahal. Akhirnya beberapa komunitas seperti Gudang Linux (www.gudanglinux.com) dan Juragan Kambing (www.juragan.kambing.ui.ac.id) menawarkan distribusi distro-distro Linux dan aplikasi OSS lainnya. Konsumen akan dikenakan biaya pengiriman dan biaya jasa lalu aplikasi yang dipesan akan dikirim melalui jasa pengiriman dalam media keping disk (CD/DVD).
2.       Jasa konsultasi
Salah satu masalah yang dihadapi oleh pengguna OSS di Indonesia saat berkonsultasi dengan perusahaan penyedia adalah kurangnya pemahaman akan bahasa asing. Oleh karena itu lahir model bisnis konsultasi yang diterapkan oleh para konsultan OSS lokal. Peluang menjadi konsultan OSS sangat terbuka. Dengan adanya ketersediaan kode sumber seorang konsultan dapat melakukan analisis secara mendalam sehingga setiap orang dapat menekuninya didukung dengan latar belakang pendidikan. Seorang Konsultan OSS akan diakui bila telah memiliki sertifikasi sesuai dengan bidangnya.
3.       Jasa pelatihan
Pelatihan untuk OSS sangat dibutuhkan. Dalam pelatihan peserta akan dikenalkan kepada OSS yang akan dipelajari dan dijelaskan kelebihan dan kekurangannya beserta solusi jika ada.
4.       Jasa solusi
Model ini merupakan kombinasi dari jasa konsultasi dan pelatihan ditambah jasa pemasangan dan penyediaan barang (aplikasi). Perusahaan yang ingin bermigrasi ke OSS dapat memanfaatkan jasa ini. Seluruh pekerjaan akan dikerjakan penyedia jasa mulai dari menyediakan, memasang, dan memberi pelatihan kepada staff perusahaan tentang OSS yang diterapkan.
5.       OSS sebagai service enabler
OSS dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari perangkat pemasaran. Perusahaan aplikasi proprietary tidak harus selalu meminta biaya lisensi dari konsumennya untuk setiap produk yang mereka rilis. Mereka juga dapat merilis versi Open Source dari aplikasi berbayar mereka dengan fungsi yang diminimalisasi. Pengguna dapat mencoba dan memutuskan apakah ingin membeli versi berbayar. Dengan cara ini perusahaan juga dapat memberi kesan kepada publik bahwa mereka peduli akan dunia OSS sehingga memperlancar promosi produk mereka untuk berikutnya.
6.       Bundler
Model ini dilakukan dengan cara menjual aplikasi OSS disertai dengan perangkat keras. Model ini biasanya diterapkan pada perangkat keras yang memerlukan sistem operasi seperti pemutar multimedia dan komputer lipat (laptop). Produsen perangkat keras akan membayar pengembang OSS untuk mengembangkan OSS yang sesuai dengan perangkat keras mereka. Dengan demikian produsen perangkat keras dapat menurunkan biaya produksi karena pengembangan OSS lebih murah. Pengembang OSS dapat memanfaatkan berbagai modul, kernel dan engine Open Source yang telah tersedia. Bahkan produsen komputer dapat langsung memasukan OSS yang telah tersedia ke dalam produk mereka seperti Linux untuk perangkat netbook dan notebook.
7.       Merchandizing
Perusahaan memproduksi berbagai barang-barang yang berkaitan dengan Open Source seperti baju, kaos, pin dan topi. Penggunaan logo Open Source relatif lebih murah dibandingkan dengan logo produk Closed Source/Proprietary (tergantung kesepakatan). Seiring dengan sosialisasi yang semakin gencar dilakukan oleh pemerintah dan berbagai komunitas OSS, logo OSS semakin dikenal. Contoh dari logo-logo OSS adalah Tux si penguin maskot Linux dan Rubah merah api lambang dari Firefox.
8.       Penulis buku/majalah
Model ini serupa dengan model bisnis jasa pelatihan selain media penyampaian yang berbeda. Penulis buku dapat menerbitkan buku dengan topik tentang OSS yang sedang diminati masyarakat. Majalah juga dapat menjadi sarana informasi yang aktual untuk para pengguna OSS. Penerbitan majalah yang membahas OSS telah dilakukan di Indonesia oleh InfoLinux (www.infolinux.co.id).
C.       Model Bisnis yang Berpotensi
Berikut ini gagasan mengenai model bisnis yang cukup berpotensi dengan memanfaatkan OSS,
1.       Translator (penerjemah)
Kode sumber yang tersedia tertulis dalam bahasa pemogramman yang digunakan untuk membangun aplikasi tersebut. Namun tidak semua orang memiliki kemampuan pemahaman terhadap suatu bahasa pemogramman yang sama. Pemahaman kode sumber diperlukan untuk tujuan pembelajaran atau pengembangan aplikasi. Model bisnis ini dapat dijalankan oleh individu/kelompok yang menguasai dua atau lebih bahasa pemogramman yang identik sehingga translasi memungkinkan untuk dilakukan. Bahasa yang dapat ditranslasikan harus memiliki karakteristik yang sama dengan bahasa yang dituju. Translasi dari kode dalam bahasa DELPHI ke bahasa BASIC jelas tidak memungkinkan karena fungsi yang tersedia tidak sama.
Dalam translasi kode sumber ditulis ulang dalam bahasa lain dengan tetap mempertahankan algoritma, fungsi dan atribut yang lain. Selain itu dengan translasi nilai guna suatu aplikasi Open Source juga akan lebih baik. Contohnya mentranslasi kode sumber yang awalnya ditulis dengan bahasa C++ ke dalam bahasa JAVA sehingga setelah dikompilasi aplikasi dapat digunakan pada banyak lingkungan (cross-platform). Selain itu translasi dapat menghubungkan antara pengembang yang menggunakan IDE (integrated development environment) OSS dengan pengguna proprietary seperti antara pengguna Gambas (www.gambas.sourceforge.net) dengan pengguna Visual Basic. Contoh aplikasi OSS yang banyak memerlukan jasa translasi adalah engine permainan (game) meliput engine untuk keperluan rendering 3D, rendering texture, model loader, sprite loader, OpenGL library dan sebagainya sehingga dapat dikembangkan berbagai aplkasi permainan dalam bahsa yang berbeda. Hal ini dikarenakan setiap bahasa pemogramman memiliki kelebihan dan menjadi pilihan tersendiri yang diperlukan dalam masing-masing pengembangan.
D.       KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN BISNIS OPEN SOURCE
Keuntungan Bisnis Open Source
Berikut ini adalah kelebihan-kelebihan dari bisnis Open Source yang tidak dimiliki oleh bisnis proprietary,
Masa Depan Software Terjamin
OSS tidak bergantung penuh pada pembuatnya (programmer) atau pada perusahaan asalnya. Ini bertentangan dengan konsep pada aplikasi proprietary dimana bila programmer tersebut berhenti atau perusahaan gulung tikar, maka kelangsungan aplikasi tersebut berhenti. Hal tersebut sangat merugikan konsumen karena mereka kehilangan dukungan atas aplikasi yang telah mereka bayar. Dalam OSS, kode sumber dimiliki oleh banyak orang dan masing-masing dapat melakukan modifikasi dan peningkatan tanpa perlu bergantung kepada pembuat atau perusahaan asal.
1.       Modal Hemat
Bagi perusahaan yang ingin memproduksi suatu produk aplikasi, mereka dapat memanfaatkan OSS sebagai modal awal dalam pengembangannya. Hal ini menghindari development-from-scratch yang berarti efisiensi waktu, tenaga dan biaya. Para Merchandizer pun merasakan manfaatnya melalui ringannya biaya lisensi. Bahkan tidak semua OSS memerlukan biaya lisensi bila akan dipergunakan untuk kebutuhan komersial. Ini bergantung pada lisensi yang melekat pada OSS tersebut.
2.       Menekan Biaya Promosi
Konsep OSS yang gratis dan bebas didistribusikan akan sangat membantu promosi. Sebuah produk OSS yang berkualitas akan dicari dan setiap orang yang telah memilikinya dapat mendistribusikan. Ini berarti produk akan “mengedarkan dirinya sendiri” melalui proses peer-to-peer. Setiap orang dapat mencoba dan menilai sendiri dengan mengeluarkan biaya yang rendah.
3.       Kualitas dan Kinerja OSS Terus Berkembang
Dengan hasil pola pengembangan OSS peer-review, kualitas dan kinerja OSS selalu dapat ditingkatkan. OSS didukung oleh banyak komunitas pemerhati dan pengembang di seluruh penjuru dunia dan juga bisnis OSS tidak perlu bertanggung jawab sepenuhnya terhadap biaya kerja mereka. Para komunitas pengembang biasanya bekerja sukarela dan menerima donasi dari siapa saja. Hasil kerja mereka dapat menjadi masukan bagi siapa saja dan bisnis OSS siap memanfaatkannya.


4.       Lokalisasi
OSS dapat dimodifikasi agar sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Misalnya Linux yang ditranslasikan bahasa antar mukanya ke dalam bahasa tertentu sesuai dengan tempat distribusi seperti distro IGOS. Dengan adanya proses lokalisasi OSS akan semakin mudah diterima oleh masyarakat. Dalam bisnis proses ini boleh dikerjakan boleh tidak. Namun bila dilakukan tentunya menambah nilai jual produk yang dibuat/didistribusikan.

BAB 3
ANALISA

                                 
3.1     Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan dalam penulisan proposal penelitian ini diantaranya adalah :

a.      Metode Literatur
Dalam metode literatur dilakukan dengan mengumpulkan data dari buku dan internet yang mendukung penulisan proposal penelitian ini.

3.2            Cara Penelitian Data

3.3    Cara Pengumpulan Data
•    Metode Mencari di Internet : Dengan melakukan pencarian data di internet;

SUMBER:
http://blogs.itb.ac.id/djadja/tag/open-source/